Oleh: Dr. Ikhsan Kamil Sahri*
Beberapa saat yang lalu, saya menerima kabar bahwa Kiai saya RKH. abdul Hamid bin Ahmad Mahfudz Zayyadi, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan, wafat. Saya tersentak mendengar kabar tersebut. Langsung terbayang 6 tahun bersama beliau dan dua kali ngaji ke beliau melalui mimpi setelah jadi alumni.
Walau keluarga besar ibu saya adalah murid para dzurriyah Shaikhona Kholil Bangkalan, tapi ayah saya yang berasal dari Sampang punya pilihan lain untuk memondokkan saya yaitu ke Kiai Hamid Bata-bata. Berbeda dengan keluarga besar ibu yang lebih dekat ke trah Bangkalan, ayah lebih dekat ke Bani Istbat Pamekasan. Bahkan nama saya menurut pengakuan beliau juga berasal dari pemberian seorang Kiai di Pamekasan.
Basis alam intelektual saya dibentuk oleh Bata-bata wabil khusus Kiai Abdul Hamid Bata-bata. Hubungan ini menjadi menarik karena ternyata Kiai Hamid juga berkawan dengan adek Kakek saya, Haji Abdurrahman Pabean Surabaya. Posisi Nyai Muti'ah yang juga trah Kepang membuat saya juga merasa berada di tengah tengah keluarga Trah Bani Kholil sehingga membuat saya juga tak kehilangan sanad keilmuan para leluhur.
Saya sendiri mondok di Pesantren Bata-bata sejak 1995 sampai 2002. Sedikit berbeda dengan teman-teman santri yang berasal dari desa, saya sedikit berani sowan dan berdialog dengan Kiai. Bahasa bertingkat ala bahasa Madura atau Jawa juga relatif terhindari karena seringkali kami memakai bahasa Arab atau Indonesia. Hanya setelah berada di kelas akhir saya mencoba membiasakan bahasa krama Madura kepada beliau.
Yang selalu saya ingat dari beliau adalah pilihan diksi yang dipakai jika tidak sepakat terhadap sesuatu. Sangat halus sekali. Seperti dawuh "pola keras gelluh" saat melihat fenomena sosial dan dawuh "mon Hamid iyeh, tapeh mon kiaeh Tabeta tak olle" tatkala saya hendak mengundang grup. Musik Gambus untuk acara pengajian yang mengatas namakan santri Bata-bata-Banyuanyar di dekat lokalisasi Dolly pada tahun 2000.
Hal ini tentu sulit saya tiru. Saya sering kali memilih diksi yang provokatif dan terkesan bombastis. Sehingga sering kali menimbulkan pro-kontra dan menyulut perdebatan. Pilihan diksi yang sangat hati-hati ini pula yang juga saya lihat di diri almarhum Kiai Asrori pengasuh Kedinding Surabaya. Mungkin karena sumber bahasanya berbeda, mereka bersumber dari hati sedang saya masih di level otak.
Wafatnya Kiai Hamid Bata-bata juga mengingatkan saya tentang wafatnya ratusan Kiai, alim, dan para sayyid di sepanjang 2020 kemarin dan ini sepertinya masih terus berlanjut. RMI PBNU mencatat lebih dari 200 an kiai/bu nyai selama masa pandemi. Kemungkinan besarnya, data sebenarnya bisa lebih besar dari yang dicatat.
Selamat jalan, Kiai. Selamat berjumpa dengan para datukmu dan dengan penghulu para Nabi.
*Penulis Adalah Alumi Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan

Posting Komentar