Madurese Work Ethic

 

Oleh: Roni Gunawan*   

   Mendengar kata Madura, apa yang ada di benak kalian? Sebuah pulau? Sate Madura? Kerapan sapi? Atau justru carok? Now, I will let you know sesuatu hal yang berbeda dari itu semua, Madurese work ethic.  

    Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di pulau garam ini, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar Madura, saya sangat meyakini bahwa etos kerja masyarakat Madura terbilang sangat tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan gigihnya mereka dalam bekerja. Para petani misalnya, mereka akan berangkat ke sawah pagi-pagi sekali bahkan sebelum mentari terbit atau di lain kesempatan, mereka akan rela bekerja lembur di sawah meski dengan penerangan seadanya. Atau seorang nelayan yang tak gentar dengan ombak yang menerjang di tengah lautan dengan nyawa sebagai taruhan. Suatu hari saya pernah berdiskusi dengan salah seorang tokoh masyarakat terkemuka di desa saya, beliau berujar bahwa masyarakat Madura sangat serius dalam bekerja karena mereka percaya bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah, dan sayapun tidak memungkiri hal itu; Masyarakat Madura yang mayoritas beragama Islam itu memang sangatlah religius.  

    Masyarakat Madura yang juga sangat terkenal dengan sistim kekompakannya masih terus lestari hingga kini. Bukan berarti mereka tidak mandiri, akan tetapi solidaritas is number jhijhi. Saling bahu membahu serta membantu kerap kali dilakukan oleh masyarakat Madura. Hal ini juga teraplikasikan dalam etos kerja mereka, karena mereka sangat sadar akan butuhnya pertolongan terhadap orang lain sebagaimana idiom yang terkenal “tada’ oreng jhareppen eserrop dhibi’” yang memiliki makna tidak mungkin seseorang yang kelilipan dapat meniup matanya sendiri. Idiom ini sangat menggambarkan betapa tolong menolong itu sangat dibutuhkan. Sehingga di Madura terkenal istilah “Jhak-Ajhak”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sistim gotong royong di pulau Madura. Istilah sederhana yang mengandung makna mendalam yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak? Dalam sistim Jhak-Ajhak ini orang-orang akan dengan suka rela mendatangi ajakan dan membantu tetangga yang memiliki agenda, bahkan tanpa upah sebagai bayaran, mereka hanya akan merasakan nikmatnya makanan yang disuguhkan tuan rumah bersama dengan yang lain. Secara kasat mata, mereka memang tak dibayar dengan uang, akan tetapi semua tetangga itupun akan datang saat dirinya juga memiliki acara yang serupa. Di beberapa daerah, sistim ini memang mulai sedikit tergerus seiring berjalannya waktu, namun masih banyak lokasi di Madura yang tetap melestarikan Jhak-Ajhak ini sebagai wujud solidaritas. 

*Penulis adalah Manusia biasa yang ingin bermanfaat pada orang lain.



Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama