Oleh: Kartika Putri*
Pertanyaan-pertanyaan kompleks menyoal perempuan sering berkejaran dalam kepala saya menjelang tidur; yang kukuh saya gugat, tak berkesudahan saya debat—bahkan sering saya lelah sendiri karenanya.
Apalagi kalau bukan tentang mengapa perempuan harus mengalami ini atau mengalami itu; tentang mengapa perempuan tak bisa lebih leluasa begini atau leluasa begitu atau; mengapa perempuan tidak mendapat banyak pilihan—alih-alih memang dipaksa tidak enak—dalam menjalani kodratnya dari Tuhan dalam sebuah siklus kehidupan.
Ritual menggusur gusar ini kerap saya lakukan di atas kasur saban malam. Sedikit dari sekian banyak yang menarik perhatian akan saya coba ceritakan dan ceritanya akan saya mulai dari tujuh hari sepanjang Ramadan yang saat ini sedang berjalan.
Ramadan. Ia selalu menghadirkan geliat dan untuk itu kau harus sepakat. Seperti tahun-tahun sebelumnya—sekalipun tahun ini berbingkai tahun kedua pandemi melanda—Ramadan selalu menyuguhan cerita dan perempuan selalu punya kisah: mulai dari menyiapkan penganan hingga ritual-ritual sebelum menuju peraduan dan tentu saja—saya berani bertaruh—di antaranya terselip keluhan atau kesedihan yang mungkin tak sanggup dibagikan kepada orang-orang yang secara langsung bersinggungan dengan sang perempuan itu sendiri.
Adalah satu teman sesama desainer grafis yang beberapa hari lalu kesedihannya bisa segera saya tangkap dari cuitan di laman Twitter-nya. Ia mengeluh dan melenguh tentang "sakit" yang ia rasakan buah dari sebuah anggapan. Katanya dalam cuitannya, ia lebih setuju dan memilih menggunakan kata "janda" saja (yang lebih lugas, tegas dan tidak bermakna manis yang dibuat-buat) dibandingkan "single parent". Ia berpedoman karena janda memang bentuk valid dari sebuah identitas seorang perempuan yang ditinggal suami: entah karena bercerai atau ditinggal mati.
Saya terpukau dengan keberaniannya—saya amini pendapatnya. Setidaknya itu relevan bagi kebanyakan perempuan yang berujung sendiri.
Ya, teman saya seorang janda—akibat berpisah dari suaminya yang kerap melakukan aniaya.
Tetapi, seperti perempuan yang menggendong kehidupan dengan sejernih-jernihnya hati, ia pun mencintai anak yang ia lahirkan. Ia berjuang menghidupi buah hati "kehidupan" yang dititipkan padanya meski dengan kepayahan. Di antara keluhan, kesepian dan kesedihan yang menerjangnya, saya tahu ia adalah sosok perempuan yang hebat—dan juga seorang ibu yang kuat.
Ia memang sekarang jadi perempuan yang merdeka secara individu. Tapi, tidak dalam masyarakat. Stigma negatif sebagai janda ditelan bulat-bulat dan sebagian besar justeru keluar dari kebanyakan para perempuan yang terlanjur mengeluarkan kata-kata jahat.
Mari kita rampungkan simpulan dengan membaginya dalam dua pernyataan.
Mana yang benar: perempuan bisa nyinyir terhadap perempuan lainnya karena ia tak sadar bahwasanya ia masih berkutat dengan sistem patriarki—yang entah sadar atau tidak masih ia amini sebagai kebenaran—yang ia terima sejak ia masih kecil—atau; perempuan bisa tidak ramah dengan sesama perempuan yang "berbeda" dari kebanyakan perempuan lainnya yang mungkin saja terjadi karena ia tak mendapat edukasi yang valid jika ia telah keliru dalam menimbang sebuah anggapan?
Keduanya benar, kawan: keduanya beriringan. Keduanya sama-sama menyakiti dengan obyeknya yang adalah perempuan.
Andai saja tiap isi kepala dalam tiap masyarakat kita tahu bahwasanya tanpa stigma dan nyinyiran hebat sekalipun, sejatinya sebenarnya perempuan setiap hari bertarung dan berjuang dengan dirinya sendiri—berusaha berdamai dengan keadaan dan kondisi di mana ia berdiri.
Perempuan selalu berusaha beradaptasi.
Tapi, kembali lagi, tak akan terjadi perubahan jika sistem dalam masyarakat belum menginginkan perubahan!
Saya tidak ingin menjadi Kartini yang paling "kartini", kawan. Saya hanya ingin bercerita sebagai perempuan yang berusaha bersimpati dan berempati kepada sesama perempuan dan tentu saja sebagai perempuan yang masih tak lelah berpengharapan bahwa perempuan seyogyanya—jika tidak ingin dikatakan harus—lebih banyak diberikan "pilihan" di masa depan untuk setuju atau mengadakan bantahan tentang apa saja yang ia pikirkan dan yang ia rasakan.
Karena perempuan adalah tonggak peradaban—sejatinya tiang kehidupan.
Bagi saya, momentum hari Kartini tidak jadi alat untuk perempuan saling unjuk gigi siapa yang paling hebat.
Bagi saya, momentum hari Kartini bukan jadi pengingat untuk perempuan tentang siapa yang pantas untuk diingat dalam rentang bilangan abad.
Bagi saya, momentum hari Kartini justeru adalah wadah untuk para perempuan menarik ke dalam diri sendiri untuk kemudian saling erat dalam jabat dan pelukan yang menguat hangat demi mendobrak stigma dalam masyarakat yang terlanjur mengakar kuat—setidaknya seperti contoh yang coba saya bagi.
Percuma kita menceritakan dengan bangga perjuangan Kartini jika sehari-hari kita masih berkutat dengan perdebatan yang wajib bangun pagi adalah perempuan—alih-alih di lain cerita kita sibuk membangun opini tak bijak dengan menyatakan perempuan wajar disebut itu dan ini hanya karena perempuan tersebut lebih tinggi dalam berpendidikan dan berpendapatan.
Percuma kita menceritakan dengan lantang kehebatan Kartini jika dalam hal sepele saja kita masih setuju dengan anggapan laki-laki sah-sah saja untuk terlihat jorok tapi perempuan jangan.
Percuma kita sok membicarakan emansipasi yang bermula dari Kartini jika dengan entengnya kita masih bisa menilai bahwa perempuan yang bekerja dengan label hebat dalam berprofesi pantas untuk dinilai sebagai perempuan yang tak tahu—menempatkan—diri karena sudah menjadi ibu dan juga isteri dari seorang suami. Parahnya merisak perempuan yang ditinggal oleh suami karena cerai hidup atau cerai mati!
Percuma para feminis—seperti saya—menggaungkan kesetaraan dan berupaya mendobrak ragam stigma jika upaya-upaya yang menyangkut pada apa yang disebutkan dan diperjuangkan selama ini tidak mendapat dukungan.
Jika demikian, cita-cita perjuangan yang digagas Kartini ternyata lebih "payah" dari sekadar memperjuangkan tiga kata: sumur, dapur dan kasur.
Jika demikian, para perempuan dewasa ini justeru memiliki musuh “alami”-nya sendiri dan haruslah berjuang untuk mengalahkannya atau memang sedang berjibaku mengalahkannya.
Pertanyaannya adalah: kapan musuh itu lenyap?
Sampailah saya di akhir tulisan ini dengan satu pernyataan: jika memang ada kehidupan lain setelah kematian—jika memang saya harus diberi pilihan oleh yang maha rahman—saya tetap akan memilih menjadi perempuan.
Mengapa harus menjadi perempuan?
Pertanyaan bagus.
Tapi, coba kau tanyakan pada ibumu bagaimana rasanya mencintai sebagai perempuan—tanyakan seberapa besarnya cintanya yang meskipun ia dibekap kelelahan, keluhan, kesepian atau kesakitan sekalipun, ia tetap ingin memastikan kau tenang, nyaman dan tak sedikitpun merasa berkekurangan?!
Ya, itu perempuan, yang kasih sayangnya mengambil kelembutan Tuhan.
Selamat menikmati momentum hari Kartini, puan sekalian. Mari kalahkan apa yang tak baik untuk diceritakan di masa depan. Bercita-citalah dan berpengharapanlah agar sesama perempuan tak saling sikut kiri atau sikut kanan.
Salam sayang...
*Aktivis Perempuan

إرسال تعليق