Sayyidah Amin Isfahani Mujtahid dari kota Isfahan


Oleh : Idris Andrianto
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah FEBI UIN Sunan Ampel Surabaya
Aktif di Organisasi Imaba Surabaya dan PMII Febi UIN Sunan Ampel


Sebagian orang beranggapan, bahwa sangat sedikit sekali tokoh perempuan yang dapat dikenal dunia karena keunggulannya. Ungkapan semacam ini memberikan dua kemungkinan yang dapat kita cermati, yaitu:
Pertama, pengetahuan sang pembicara terlampau dangkal, sehingga banyak tokoh yang tidak ia ketahui, atau bahkan ia dengar dalam literasi sejarah peradaban Islam dan dunia. Hal itu tidak lain karena ketidaktahuan menelaah terhadap bacaan kitab-kitab sejarah.
Kedua, pembicara terlalu terpengaruh statemen-statemen beberapa oknum yang cenderung melecehkan kaum perempuan. Alhasil, dua penyebab tersebut menjadi faktor yang harus kita tuntaskan bersama.
Begitu banyak tokoh perempuan yang tidak dikenal namun memiliki prestasi yang sagat luar biasa sehingga keberadaan mereka seakan hilang dari peradaban sejarah.
Disini kita akan singgung secara ringkas sejarah kehidupan seorang wanita mujahidah fi sabilillah, penghidup ajaran para Ulama, penghidmat masyarakat serta alim dari berbagai ilmu keagamaan dan tokoh wanita dalam zamannya, yaitu Sayyidah Amin dari kota Isfahan, Iran.
Nama lengkapnya adalah Hajjah Sayyidah Nushrat Bigum Amin (terkenal dengan sebutan Banuye Isfahani). Beliau lahir pada tahun 1265 H di Isfahan, Iran. Ayah beliau bernama Haji Sayyid Muhammad Ali bin Hasan dan dkenal dengan sebutan “Amien-e Tujjari Isfahani“, beliau adalah orang saleh lagi dermawan. Begitu pula ibu beliau, yaitu seorang wanita mukminah serta mulia.
Sayyidah Amin adalah seorang Syarifah atau Sayyidah, yang urutan nasabnyakembali ke Rasulullah SAW melalui putri semata wayang beliauyang digelari penghulu para wanita dari awal hingga akhir penciptaan yaitu Sayyidah Fathimah Az-Zahrah Ra dengan tiga puluh urutan nasab.
Sayyidah Amin merupakan anak terakhir dari empat bersaudara, yang rata-rata semuanya adalah laki-laki.
Sewaktu menginjak umur empat tahun, ibunya mengirim beliau ke Maktab (pusat Pendidikan) untuk belajar Al-Qur’an dan baca tulis. Padahal pada zaman itu, jarang sekali keluarga yang mengirim anak perempuannya ke Maktab untuk belajar, bahkan Sebagian keluarga tidak diperbolehkan untuk mengajarkan baca tulis kepada anak perempuannya. Sungguh sangat miris sekali melihat fenomena ini, yang mana para perempuan dianggap kurang memumpuni dalam bidang keilmuan dan kurang dihargai sebagai pencari ilmu dan ridho allah SWT.
Sejak saat itulsh Sayyidah Amin terus melanjutkan pelajarannya dan beliau juga belajar kosa kata arab yang baik hingga umur sebelas tahun. 
Dalam literasinya, beliau menceritakan sendiri kenangan masa kecilnya, beliau berkata:
Saya masih ingat masa kecil ketika saya bersama-sama teman sebaya, yang mana mereka sangat suka bermain dan bergembira. Namun, saya tidak terlalu berminat dengan hal tersebut, bahkan saya lebih sekan menyendiri dan terus berfikir, karena saya merasakan adanya sesuatu yang hilang dari jiwa saya. Bukan hanya ditempat yang sepi, bahkan ditempat yang ramai pun saya terus berfikir dan merenung untuk menemukan jawaban dari kekosongan saya“ ungak Sayyidah Amin
Setelah menyelesaikan pendidikan mukaddimah, lantas beliau melanjutkan Pelajaran Fiqh, Kifayah Al-Ushul, Bahsul Kharij Shalat, Thaharah dalam bidang fiqh, Syawariqul Ilham dalam bidang Ilmu Kalam (teologi), Ilhiyah Al-Asfar dalam bidang Falsafah dan masih banyak lagi yang lainnya. Beliau belajar semua bidang dari Mir Sayyid Ali Najaf Abodi.
Ketika berumur 15 tahun, beliau menikah dengan anak pamannya yang bernama Haji Mirza, yang dikenal dengan Mu’in-e Tujjari, beliau merupakan saudagar terkenal di kota Isfahan. Meskipun Sayyidah Amin mempunyai seorang anak, namun hal tersebut tidak menghalangi kecintaan beliau terhadap ilmu dan belajar. Dalam pernikahannya, beliau di anugerahi delapan anak, namun yang masih hidup hanyalah seorang saja. Beliau begitu tabah dan menganggap ini adalah ujian Ilahi.  Dan beliau selalu bisa menyeimbangkan antara keluarga dan belajar, dan tetap menjalankan kewajibannya sebagi ibu dan istri.
Karena kcintannya kepada ilmu, meskipun dihari itu ananknya meninggal, beliau tetap hadir untuk belajar. Seorang guru beliau menukil: “Suatu Hari ketika putri Sayyidah amin meninggal dunia, saya yakin Sayyidah Amin tidak akan datang untuk menghadiri belajar. Namun, ia datang dan berujar: “Tidak apa-apa, ia telah pergi ke Rahmat Ilahi, kenapa saya harus meliburkan pelajaran? Allah telah menganugrahkan dua nikmat kepadaku. Lalu Dia mangambil salah satunya dariku, kenapa aku harus kehilangan lainnya, yaitu nikmat belajar?“ Subhanallah, amatlah suci dan lapang hatinya terhadapa takdir Allah SWT.
Dengan kecintaan dan semangat terhadap ilmu, beliau meneruskan sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Samapi akhirnya di usia empat puluh tahun derajat keilmuan beliau diakui oleh Ulama besarsehingga beliau pun mencapai derajat Ijtihad. Dengan prestasi beliau yang sangat tinggi, banyak para para tokoh dan Ulama besar dari berbagai negara Islam berdatangan dan berbnacang-bincang dengan beliau tentang Ilmu. Diantara Ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah Al-Udzma Mar’asyi Najafi, Allamah M Husain ath-Thababa’I (pengarang tafsir Mizan) AllamahTaqi Jakfari (filsif Muslim Terkenal) dan berbagai dosen dari Universitas.
Sepanjang hidupnya, Mujtahidah Amin selalu mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, suatu Ketika beliau pernah berkata; “Tiada kesengsaraan yang lebih dalam, sedalam jauhnya seseorang dari kekasih sejatinya (Allah SWT)”.
Mujtahidah Amin dari usia empat puluh tahun hingga akhir hayatnyamenghabiskan waktunya untuk menulis kitab, mengajar, dan menjawab berbagai permasalahan agama dan membimbing kaum perempuan.
Pada tahun 1344 H dengan dana sendiri, beliau mendirikan pusat pendidikan bagi perempuan dengan nama “Maktab Al-Fathimah As” dan Sekolah menengah Atas (SMA) Khusu perempuan. Beliau juga mengajar Ilmu agama dan Tafsir serta menjawab permasalahandi Lembaga yang bernama “Pusat Dakwah Dan Pendidikan Agama” di Kota Isfahan.
Akhirnya, setelah perjuangan dan pelayanan beliau terhadap Islam terkhususnya Kaum perempuan, pada tanggal 23 Khurdad 1362 H dalam usia 97 tahun, beliau menghebuskan nafas terakhirnya.
Karya-Karya Sayyidah Amin yaitu:
Jami’u Asy-Syatat
Arba’in Hasyimiyah
Ma’ad Ya Okharin Sairi Basyar
An-Nafahatu Ar-Rohmaniyah Fi Al-Waridati Al-AlQalbiyah
Tafsir Makhzan Al-Irfan
Rowasi Khusybakhti Wa Tausiyah Bi Khuraran Imani
Makhzanu Al-la’ali Fi manaqib maula Al-Mawali
Syair Wa Suluk dzar Rowasi Auliya wa Thariq Syair Syuhada
Akhlaq

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama