Oleh: Farhan*
Dibalik setiap musibah selalu ada berkah. Ada berkah yang tersembunyi. Ada rahmat yang terselubung. Ada anugerah yang perlu kita cermati. Seringkali orang tidak mampu menangkap berkah-berkah itu, karena terlalu sibuk dengan diri sendiri dan usaha keras untuk mengatasi musibah, sehingga lupa untuk berhenti dan berpikir sejenak. Stop and think. Berhenti dan berpikir. Untuk apa? Supaya kita dapat menangkap berkah-berkah yang tersembunyi di balik musibah itu.
Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh umat manusia di dunia ini merontokkan seluruh sendi kehidupan. Manusia dibuat tak berdaya oleh "musuh yang tak kasat mata itu". Bahkan teroris yang paling sadis pun bertekuk lutut di hadapan sang Covid-19, yang telah menelan banyak korban itu.
Banyak usaha yang telah dilakukan oleh berbagai negara yang terlanda pandemi itu. Masing-masing menggunakan cara yang sesuai dengan kondisi dan situasi di negaranya. Kabar baiknya, dengan adanya bencana global itu, negara-negara yang tadinya berseteru, kini berdamai untuk secara bersama menghadapi bencana global itu. Bahkan negara yang paling awal tertimpa musibah itu, dan kini telah bangkit, tidak sedikit memberikan bantuan kepada negara-negara lain untuk menanggulangi pandemi global itu secara bersama-sama.
Di negeri kita, tak sedikit upaya pemerintah yang dilakukan untuk mencegah dan menangkal beredarnya wabah itu supaya tidak merambah ke seluruh negeri. Baik penanganan secara langsung terhadap orang yang tedampak maupun tidak langsung dengan berbagai peraturan yang seharusnya dilaksanakan secara patuh oleh setiap warga negara. Work For Home, dengan orang lain, gunakan masker, cuci tangan dengan sabun, jaga kebersihan, jaga kesehatan tingkatkan terus daya tahan tubuh. Itulah nasihat-nasihat yang pantas kita laksanakan tanpa syarat.
Sebagai warga negara yang baik, sumbangan apa yang telah kita lakukan bagi negeri tercinta ini dalam menghadapi musuh bersama yang tak kasat mata itu? Telah banyak yang dilakukan negara untuk kita, lalu apa sumbangan kita? Jika kita tidak bisa memberikan sumbangan, paling tidak kita tidak nyinyir merecoki yang justru membuat kekacauan dan kegalauan orang lain. Kita ikuti saja aturan yang telah ditetapkan tanpa banyak menyalahkan, mengomeli, mengeritik, merepet dan nyinyir. Toh masalah tidak akan selesai dengan menyalahkan, mengomeli dan menyinyiri.
Sambil bekerja di rumah, marilah kita mencoba mencari hikmah di balik musibah yang melanda dunia kita ini. Saatnya kita masuk ke dalam suasana tenang, hening, untuk merenung supaya kita dapat menang (nang ning nung nang).
K.H. Mustofa Bisri atau yang lebih sohor dengan panggilan Gus Mus, dengan apik menuliskan puisinya "Tuhan Mengajarkan Melalui Corona". Sebagian liriknya itu mengatakan:
"Ketika Corona datang, engkau dipaksa mencari Tuhan. Bukan di Basilika Santo Petrus, bukan di Ka'bah, bukan di gereja, bukan di masjid, bukan di mimbar khotbah, bukan di majelis taklim, bukan di dalam misa Minggu, bukan dalam sholat Jumat. Melainkan pada kesendirianmu, pada mulutmu yang terkunci, pada hakekat yang senyap, pada keheningan yang bermakna.
Corona mengajarimu, Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian. Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual. Tuhan itu ada pada jalan keputusasaanmu dengan dunia yang berpenyakit...." (The Proviten Media)
Itulah salah satu hikmah yang kita temukan di balik musibah pandemik global Covid-19. Kita dapat menemukan Tuhan justru pada keputusasaan, kesedihan, kekhawatiran, kebingungan, kesakitan yang kita tarik dalam keheningan yang senyap.
Hikmah lain yang kita dapatkan dari Corona ini adalah kesadaran kita untuk mengakui bahwa kita memiliki sesuatu yang luar biasa yang mungkin selama ini tidak kita sadari, yaitu kekuatan pikiran. Doug Hooper dalam bukunya You Are What YouThink, mengungkapkan betapa dahsyatnya kekuatan pikiran kita. Kita adalah apa yang kita pikirkan, yang seringkali secara sengaja dimanfaatkan oleh para motivator sebagai senjata untuk membangkitkan semangat orang lain.
Saya akan mengutip artikel salah satu seniman yaitu Rama Mudji Sutrisno yang berjudul "You Can Help" meskipun mengaku bukan tulisannya sendiri. Yang mengungkapkan betapa dahsyatnya kekuatan pikiran itu, yang bahkan dapat diungkapkan sebagai "presiden".
"Anda tidak perlu menjadi Presiden RI untuk membantu perjuangan bangsa melawan wabah covid-19. Anda bahkan tidak perlu menjadi Tuhan untuk menunjukkan kuasa pada alam semesta raya ini agar bebas dari wabah covid-19. Anda cukup menjadi diri sendiri. Sebab Anda adalah Presiden bagi seluruh sel-sel dalam diri Anda. JIWA Anda adalah percikan Tuhan di semesta kecil tubuh ini. Kuasa terbesar itu sedang ada bersama Anda saat ini. Itulah kuasa pikiran. Berkah keajaiban dari semesta ini.
Anda bisa membantu negeri, bisa membantu dunia dengan kuasa ajaib pikiran itu. Tapi jadilah Presiden bagi pikiran Anda. Perintahkan pikiran Anda untuk tetap tenang dan waspada. Perintahkan pikiran Anda agar Menteri Komunikasi (bibir) tidak mengeluarkan kata-kata yang negatif, berisi ketakutan, kecemasan dan ketiadaan harapan. Gunakan pikiran Anda untuk mengalirkan kuasa doa kesembuhan dan keselamatan bagi negeri dan dunia. Jika seluruh bangsa melantunkan doa positif dan kebaikan bagi negeri, maka semua akan mudah berlalu. Gunakan pikiran ajaib kita untuk melakukan tindakan sederhana: mengikuti arahan pemerintah dengan disiplin. Itu saja. Gunakan kekuatan pikiran Anda untuk membayangkan hal-hal baik akan dan terjadi di negeri ini, di bumi ini..."
Musibah Corona juga memberikan hikmah kepada kita berupa pelajaran kehidupan yang semakin meningkatkan kualitas kemanusiaan kita. Semangat gotong royong yang menjadi warisan budaya leluhur kita terbukti menjadi kekuatan luar biasa yang mampu membantu menangkal musibah. Kepedulian terhadap sesama, belarasa, saling berbagi meski dalam kesesakan, saling meneguhkan dan saling mendoakan dapat kita temukan dalam musibah saat-saat kita merenungkannya dalam keheningan.
Begitulah. Dengan musibah ini, Allah sedang bekerja dalam hidup kita - bahkan ketika kita tidak mengenali atau memahaminya. Tetapi hal itu jauh lebih mudah dan menguntungkan ketika kita bekerja sama dengan Dia.
"Keberhasilan dapat diukur tidak hanya dalam pencapaian, tetapi dalam pelajaran yang dipetik, kehidupan yang menyentuh dan momen yang dibagikan sepanjang jalan.".
*Penulis adalah pimpinan redaksi website Imaba Surabaya sekaligus mahasiswa aktif prodi manajemen bisnis Universitas PGRI Adi buana Surabaya
Wallahu a'lam

إرسال تعليق