Oleh: Achmad Ibnu Hazm Al chusainie*
Dalam buku seratus tokoh paling berpengaruh di dunia karangan Michael Hart Nabi Muhammad SAW ditempatkan pada urutan pertama dibangdingkan tokoh-tokoh dunia lainnya. Yang cukup mengherankan khalayak pembaca profesional dan umum, Michael Hart sebagai orang yang non-muslim dengan tegas menempatkah tokoh pembawa agama islam diurutan teratas, sehingga menimbulkan banyak persefsi positif dan negatif. Namun setelah ditinjau lebih dalam, kajian objektifitas yang membuat Micael Hart menampatkan Nabi Muhammad sebagai aktivis organisatoris sejati, sehingga Nabi Muhammad mampu membentuk gerakan radikal revolusioner dengan sistem yang menjunjung tinggi nilai keadilan bagi seluruhmanusia, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama dan suku dengan asa humanis.
Rasulullah sebagai panutan (uswatun hasanah) dalam berbagai lini kehidupan individual dan sosial sudah dengan jelas dimatubkan dalam kitab suci umat islam al-Qur’an, namun sebagai manusia yang berfikir dengan anugrah akal yang diberikan oleh sang pencipta sebagai hadiah terindah mengharuskan manusia mengkaji teori-teori yang dicetuskan dan dijalani oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga mampu membawa manusia dari alam kegelapan menuju alam yang penuh cahaya. Beliau adalah manusia yang istimewa namun bukan berarti beliau adalah manusia yang adimanusiawi atau manusia yang tidak bisa dimanusiakan, seperti dewa-dewa dalam kepercayaan bangsa Yunani kuno.
Kemampuan Beliau sebagai seorang aktivis dan organisatoris menjadi salah satu kunci sentral dalam sukses perjalanan dakwahnya. Kreteria aktivis Beliau bisa dilihat dari sifat wajibnya, yaitu sidiq (integritas), amanah (profesional), tabligh (transparasi) dan fatonah (intelek) dan keempat sifat ini yang akan saya jelaskan dalam tulisan ini.
Sidiq atau berintegritas adalah mutu atau sifat keadaan yang menunujukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Jujur adalah kesamaan antara apa yang dikatakan dengan realita, Rasulullah selalu jujur dalam setiap tindakan dan ucapan, sehingga selanjutnya menjadi ajaran yang disebut hadits. Seorang aktivis seperti Rasulullah yang selalu menjujung integritas akan menjadikan aktivis tersebut wibawa diantara anggota-anggotanya, selalu berbicara apa adanya tidak menjadi pribadi yang oportunis tanpa ada niatan untuk mengambil untung untuk atau mempolitisasi organisai dan anggota-anggotanya. Kepentingan organisasi menjadi kepentingan nomor satu dengan mengalahkan kepentingan individu yang bersifat pribadi.
Dengan wibawa beliau Rasulullah menjadikan sahabat-sahabat sebagai mitra yang intraktif dan komunikatif tanpa sedikitpun menghilangkan hormat sahabat kepada Rasulullah, komunikasi yang dibangun Rasulullah selalu mengedepankan kejujuran dan tidak berlebihan, apa yang benar dikatakan benar dan apa yang salahj dengan tegas dikatakan salah. Terkadang pula Rasulullah bercanda ria dengan para sahabat tanpa ada unsur menyakiti dan kebohongan seprti dalam cerita nenek tua yang bertanya kepada rasullah “Wahai Rasulullah, apakah nenek tua seperti saya bisa masuk surga” Rasulullah langsung menjawab “tidak bisa”, langsung raut muka nenek tua itu muram menunjukkan kegelisahan dan kesedihan mendengar jawaban tersebut, Rasulullah sontak melanjutkan perkataannya “karna disurga nanti tidak ada nenek-nenek tua, kamupun nanti akan kembali muda saat sudah masuk surga”. Dan seketika nenek tua tersebut kembali tersenyum dan bahagia.
Amanah atau profesional adalah kemampuan untuk menempatkan segala sesutu pada tempat semestinya dengan porsi dan target yang benar, bijak dan tepat. Dengan profesionalitas Rasulullah mampu membuat kebijakan-kebijakan yang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat arab waktu itu serta dengan optimalisai potensi-potensi sahabat dan kecendrungannya.
Tabligh atau transpransi adalah keterbukaan dan kejelasan dalam segala bentuk keputusan, kebijakan dan laporan. Rasulullah selain sebagai tokoh agama juga sebagai seorang Nabi yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT, wahyu langsung datang dari Allah disebut al-Qu’an sedangkan ucapan atau tindakan yang berasal dari inisiatif Rasulullah disebut hadits, demi menjaga transparasi dan keotentikan antara keduanya Rasulullah selalu menjelaskan mana yang tergolong ayat al-Qur’an dan mana yang tergolong hadits.
Transparasi seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah sangatlah penting dalam kehidupan organisasi, karena keterbukaan adalah ciri dari krakter organisasi yang sehat dan tidak manipulatip, keterbukaan menunjukkan kesiapan dari berbagai lini, baik dari pimpinan organisai sampai pada bagian depertemennya untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar secara bijaksana dari permasalahan yang sedang menimpa organisasi tersebut. Dalam negara demokrasi seperti yang sedang dianut Indonesia seperti sekarang transparasi menjadi kewajiban, apalagi dalam ranah anggaran dan lembar pertanggung jawaban dari alokasi anggaran tersebut, sehingga semua lapisan masyarakat bisa mengakses dengan mudah dan mengawal semua kebijakan publik. Dan itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam memipin organisasi yang bernama arab pada masa itu.
Fatonah atau intelek adalah daya atau proses pemikiran yang lebih tinggi yang berkenaan dengan pengetahuan atau kecerdasan berfikir. Rasulullah adalah seorang intelek, disamping beliau adalah nabi yang memilki keistimewaan karna diajari langsung oleh Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril, beliau juga memiliki kemampuan untuk selalu belajar dari alam dan pengalaman hidup pribadi.
Kempuan dalam berternak sudah beliau pelajari semenjak masih umur enam tahun dengan mengembala kambing saat masih dirawat oleh pamannya Abu Thalib, sesudah beliau berumur sepuluh tahun beliau bekajar cara berdagng dan berbisni yang merupakan ciri orang-orang Arab masa itu dengan ikut berjualan ke Syam bersama pamannya pula. Sampai akhirnya Rasulullah sukses mendapat gelar al-amin (dipercaya) karena terkenal dengan kejujurannya sehingga Rasulullah sudah sukses pada usia muda menjadi pengusaha sukses saat sudah menikah siti Khdijah.
Teori kenegaraan dan politik juga beliau kuasai, terbukti beliau mampu membentuk negara baru yang bercorakkan keadilan sosial bagi seluruh manusia dengan memelihara hak sosial semua warga negara saat beliau bersama para sahabat mendeklrasikan negara aman sentosa melalui piagam Madinah. Teori keamanan dan militer juga beliau kuasai dengan baik, terbukti saat perang pertama kali Rasullah bersama para sahabat melawan orang-orang Mekah yang telah berkuasa secara oligarki yang dikenal perang Badar. Pada kejadian yang bertepatan dengan tujuh belas Ramdhan itu jumlah pasukan Rasullah hanya tiga ratus tiga belas sedangkan pasukan musuh itu tiga kali lipat atau sekitar seribu, namun dengan taktik perang yang baik dan benar serna pertolongan Allah, Rasulullah berhasil menang dan menjadi langkah awal Rasulullah untuk melebarkan dakwah kemanusiaanya.
*Penulis adalah korwil Imaba Surabaya Sekaligus mahasiswa aktif prodi ilmu hukum Universitas 17 Agustus 1945

Posting Komentar