IMABA DIPERSIMPANGAN GANG


Oleh : Hazm al chusainie*

Bersarung tidak harus Imaba, begitu hal sebaliknya. Ber-Imaba, tidak cukup dengan sekedar menjadi alumni Bata-Bata yang pada proses selanjutnya menyicipi pendidikan tertinggi negeri ini. Karna ber-Imaba tidak mudah dan kamu tidak akan kuat, cukup aku saja. Sama seperti Rindu, hanya Dilan yang mampu mengembannya, tidak yang lain dan tidak pula Milea. Aku ditanya, "Boleh aku ikut serasa dan seasa?" Aku menegaskan, "Jangan memaksa, ini tidak akan mudah dan tidak akan sesederhana yang diterka-terka"


Pada dasarnya, tidak serumit itu taretan. Dengan berbekal pernah ngerasa kencing di Bata-bata serta mau menjadi mahasiswa sudah otomatis menjadi bagian dari Imaba, lebih menegaskan dengan partisipasi seremonial saat penyambutan transisi status santri menuju ekpestasi. Tidak harus mampu, ya saya tegaskan lagi tidak harus mampu, karna mampu hanya bagi minoritas tertindas oleh status qou dan kebiasaan yang berposisi sebagai pengadil moral dan etika semesta.


Penulis berpengaruh berkata; "Orang terpelajar harus jujur sejak dalam pikiran". Ekpestasi sesudah santri meng-upgread status sosial dari "Sami'na Wa Ato'na" menjadi "Sami'na Fa analisa Tsumma Ato'na au Asoina". Krakteristik berbeda yang tidak ada kata tawar untuk menjadi insan akademis selaras dengan salah satu tri khidmat. Kebenaran subjektif serta proposional dalam berfikir dan bersikap merupakan modal radikal yang wajib senantiasa ditanamkan dalam diri untuk menuju proses transisi sustainable dan stabil. Jangan pernah menggadaikan isi kepala pada jempol kecoa toilet umum.


Tidak sedikit yang katanya Religius, namun tidaj bernilai Spritual. Solat berjemaah di Masjid bagian dari tindakan religius yang baik dilakukan, baik spritual saat tidak menuhankan tuhan selain Tuhan yang dituhankan oleh mahluk tang ber-Tuhan. Mau riligius apau spritual sama saja, sama wajib dijalankan dengan integritas dan integrasi bersinergi. Kata Gus Dur "Hamba amatiran, mereka yang masih terpengaruh penilaian selain Tuhan". 


Posisi sebagai hamba menuntut pula untuk berlaku baik dan benar pada semesta, harus adil pula ya. Karna berlaku, harus bergerk serta berkarya untuk manfaat berbangsa dan beragama. Tidak mengganggu hak pundamental hamba selain kita sudah lebih dari kata cukup untuk lolos verifikasi mengabdi dan berkarya. Gitu saja kok repot.


Aku mau tidur dulu, sekian.!!!


*Penulis Adalah Kordinator Wilayah Imaba Surabaya

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم